Stasiun Pemantau Cuaca Tertinggi Di Dunia

Para ilmuwan yang dipimpin oleh National Geographic Society dan Universitas Tribhuvan memasang dua stasiun pemantau cuaca dari ketinggian 8.430 meter dan 7.945 meter, serta 3 stasiun lainnya di Everest.

 

 

Data yang diambil dari stasiun akan memudahkan para ilmuwan lebih memahami bagaimana kenaikan suhu global berdampak pada gletser yang mencair dengan cepat.

 

Ilmuwan iklim Baker Perry dan Tom Matthews bersama tim sherpa mendirikan stasiun cuaca di area pendakian gunung Everest. Stasiun ditempatkan di area yang dinamai Balcony.

 

 

Tidak salah, stasiun pemantau cuaca tertinggi ada disana. Tidak jauh dari puncak Everest pada ketinggian ekstrem.

Tempat tersebut adalah tempat dari ketinggian terakhir yang biasa pendaki menyiapkan fisik mereka menuju puncak Everst.

 

Gunung Everest juga sebagai sumber air bersih hampir 1/4 penduduk dunia (sekitar 1,6 miliar penduduk). Layaknya tower air super raksasa di planet Bumi.

 

Stasiun cuaca digunakan untuk memantau fenomena alam yang sering muncul di Everst seperti angin jet stream. Serta menganalisa apakah bumi terus mengalami pemanasan sampai 80 tahun mendatang. Mungkin puncak Everest akan semakin minim es.

 

23 Mei 2019 kedua ilmuwan iklim berhasil mendirikan stasiun cuaca mereka, setelah persiapan yang menghabiskan waktu berbulan-bulan.

 

Stasiun cuaca tersebut dengan struktur hampir 2 meter. Dengan peralatan 40kg dan dirancang tahan angin "dingin" dan kencangnya topan ekstrem di ketinggian puncak gunung Everest.

 

Bahkan sebelumnya mereka telah berlatih untuk membangun stasiun di ketinggian ekstrem yang mendekati wilayah death zone.

 

Wilayah di ketinggian 8000 meter bukan sebuah tempat untuk duduk santai. Karena kandungan oksigen yang tipis, dikenal dengan wilayah kematian. Mereka yang memiliki gangguan pernapasan, kemampuan paru paru yang rendah, sangat berbahaya berada di ketinggian tersebut. Umumnya pendaki akan mengunakan oksigen yang mereka bawa untuk menjaga tubuh mendapakan pasokan oksigen.

 

Semetara Baker dan Tom serta 6 sherpa harus mengejar waktu walau kelelahan, membangun stasiun dalam waktu singkat hanya 3-4 jam sebelum mereka kehabisan oksigen. Dan kembali turun secepatnya.

 

Sebelum membawa peralatan stasiun cuaca, tim membagi barang bawaan. Dari tabung oksigen, sensor kutub dan instrumen ilmuah, termasuk mesin bor elektrik. Lucunya ketika mereka membongkar, ada kunci yang hilang. Setelah di cari cari kunci untuk sensor angin tidak ketemu, terbayang tabung oksigen yang sudah mereka pakai, sampai dicari akal sampai stasiun berhasil berdiri.

 

Pengalaman kedua ilmuwan mengatakan, tidak ada yang melakukan pemasangan alat instrumen penelitian sain dan berada di atas 7000 meter. Karena semuanya berbeda katanya ke media Nat Geo.

 

Stasiun cuaca ini mirip seperti menara sensor cuaca di planet Bumi. Stasiun akan mencatat keadaan iklim dunia. Dahulu pernah dipasang stasiun cuaca disana. Ketika tim peneliti Italia memasang di area Col selatan 10 tahun lalu. Tapi hanya dibangun dengan penahan dengan tumpukan batu, dan stasiun tersebut tidak bertahan lama, akhir terbang diterjang badai.

 

Sebelum proyek pemasangan stasiun cuaca. kedua tim ilmuwan mencari bantuan ke badan Campbell Scientific. Dan mendisain ulang agar stasiun cuaca mereka lebih kuat.

 

 

 

Tantangan utama adalah penahan kaki stasiun yang terdiri dari tripod, juga dibuat ringan untuk dibawa keatas. Tapi cukup kuat menahan tekanan angin sampai 320km perjam. Kedua data akan terhubung ke stasiun lain dan dapat diteirma oleh peneliti lain secara realtime kondisi cuaca serta arus angin disana.

 

Tugas lainnya, mereka mengambil contoh dari batuan es di Everest. Urusan bor di batu es yang dingin. Ditangani oleh Mariusz Potocki ilmuwan iklim dari Polandia bersama Mayewski dari universitas Maine. Mereka mengembangkan bor yang ringan dan kuat untuk memotong es batu yang keras.

 

Disini tidak luput dari masalah. Bagaimana memutar bor dan baterai apa yang tahan cuaca dingin. Masalah baterai akan cepat kehilangan power ketika berada pada suhu terlalu dingin.

 

Tim Potocki yang terpisah tersebut merancang bor khusus. Ilmuwan dari universitas Maine melakukan uji coba daya tahan baterai di suhu minus 10 derajat di dalam kulkas.

 

Selesai memperkirakan kemampuan baterai. Kembali dilakukan percobaan dan melihat daya tahan baterai dalam kondisi sebenarnya, Mayewski dan 2 rekannya berangkat ke Islandia.

Disana dilakukan pengujian akhir sistem bor mereka apakah benar benar bekerja sebelum digunakan dan dibawa ke puncak Everst.

 

Setidaknya tim dari Everest mendapatkan catatan sejarah cuaca di Bumi melalui permukaan es di Everest. Dengan data sampai 10.000 - 12.000 tahun kebalakang.

 

 

2 ilmuwan yang berangkat tidak luput dengan masalah, katanya terlalu ramai. Karena jadwal pendakian di pertengahan tahun memang sangat ramai.

 

Mereka bersama 6 sherpa harus mengatur jadwal satu hari lebih cepat sebelum tim pariwisata pendaki berangkat dan sudah antri untuk menuju puncak Everest.

 

Berdasarakan data musim pendakian tahun 2019, pemerintah Nepal telah mengeluarkan 382 ijin pendakian, 390 izin tim pendukung, dan total 772 orang diperkirakan akan ada di sekitar gunung Everest sampai akhir Mei 2019.

 

Semua pendaki yang siap mendaki akan menunggu cuaca terbaik. Begitu cuaca dalam kondisi terbaik, maka semuanya berangkat menuju puncak Everest.

 

Tentu saja terjadi antrian di sepanjang jalur. Sementara tim peneliti hanya mendaki ke satu bagian sisi gunung dan tidak perlu mencapai puncak, dan berangkat lebih cepat untuk menghindari hari penuh sesak.

 

Katanya, kalau ikut dengan para pendaki, resiko akan kehabisan oksigen atau malah terlibat menjadi tim penolong mereka.

 

19 Mei 2019 akhirnya mereka berangkat, setelah melihat kondisi cuaca membaik. dari perjalanan selama 3 hari menuju ketinggian yang disebut Balcony.

 

 

 

6 sherpa yang terlatih berhasil mendirikan stasiun cuaca, dan 2 ilmuwan mengumpulkan data dari es untuk bahan penelitian sejarah cuaca Bumi.

 

Loggerindo menjual Stasiun Pemantau Cuaca / Iklim ( Weather Station ) dari HOBO untuk pemantauan dan monitoring cuaca. Produk weather station Onset dapat langsung digunakan karena memiliki kemudahan penggunaan (user-friendly), automatic sensor smart (plug-and-play) yang beragam, terdapat opsi output data berupa USB berbasis web (Web-based) atau stand alone (USB only) serta memiliki ketahanan pada kondisi lingkungan yang ekstrim sekalipun.

 

Untuk Pemesanan Weather station silahkan hubungi :

Office : 021-8690-6777

Email : Sales@alatuji.com / Marketing.hobo@taharica.com




Produk Terkait dengan artikel Stasiun Pemantau Cuaca Tertinggi Di Dunia

C02 and Temp output cable for H22-001, U30 or RX3000
C02 and Temp output cable for H22-001, U30 or RX3000
U30 USB Weather Station Data Logger Part - HOBO - U30-NRC
U30 USB Weather Station Data Logger Part - HOBO - U30-NRC
(Set) Wind Smart Sensor - S-WSET-A
(Set) Wind Smart Sensor - S-WSET-A
Wind Speed (with 3m cable) Smart Sensor - S-WSA-M003
Wind Speed (with 3m cable) Smart Sensor - S-WSA-M003